Prof. Rosdalina Bukido dan Tim Sambangi Pondok Pesantren Inklusif Al-Maghfirah Gorontalo, Dorong Dukungan bagi Pendidikan Disabilitas

Gorontalo, Kamis, 16 April 2026 — Prof. Rosdalina Bukido bersama tim melaksanakan kunjungan akademik dalam rangka riset bertajuk “Fiqh Pesantren Inklusif: Implementasi Kebijakan Pesantren Ramah Anak dan Disabilitas” di Pondok Pesantren Inklusi Disabilitas Al-Maghfirah Gorontalo. Riset ini didanai melalui program MORA–The AIR Funds oleh Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan LPDP tahun 2025.

Kunjungan ini merupakan bagian dari penguatan data empiris terkait pengembangan pesantren inklusif di Indonesia, sekaligus menjadi ruang silaturahmi dengan pihak pesantren. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat, tertib, dan penuh kekeluargaan.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan Ketua Yayasan, Bapak H. Raden Saleh, yang memperkenalkan profil Pondok Pesantren Inklusi Disabilitas Al-Maghfirah. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa pesantren ini dibangun atas dasar komitmen menghadirkan pendidikan Islam yang inklusif, humanis, dan berkeadilan bagi seluruh santri, termasuk penyandang disabilitas. Ia juga menyampaikan harapan agar kunjungan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas dalam bidang penelitian dan penguatan kelembagaan pesantren.

Dalam sambutannya, Prof. Rosdalina Bukido menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan oleh pihak yayasan dan pesantren. Ia menekankan bahwa keberadaan pesantren inklusif seperti Al-Maghfirah memiliki posisi strategis dalam pengembangan kajian hukum Islam, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan anak, pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, serta penguatan nilai keadilan sosial dalam pendidikan Islam. Menurutnya, riset ini tidak hanya bertujuan menghasilkan kajian akademik, tetapi juga mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi pengembangan pesantren inklusif di Indonesia.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi perkenalan santri yang dipandu oleh anggota tim, Syahrul Mubarak Subeitan. Suasana berlangsung interaktif dan penuh keakraban. Tim peneliti berkesempatan mengenal lebih dekat para santri, termasuk santri penyandang disabilitas seperti Aisinero, Sarif, dan Abdul Rajak, serta santri lainnya seperti Nia dan Yuni. Momen ini memperlihatkan semangat belajar yang tinggi dari para santri, meskipun dengan keterbatasan fasilitas.

Selanjutnya, Ustazah Riska selaku pengasuh pesantren memaparkan dinamika pengasuhan dan pembinaan santri di lingkungan pesantren. Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan bersifat sabar, adaptif, dan penuh perhatian, guna memastikan setiap santri dapat berkembang secara optimal, baik dari sisi spiritual, emosional, maupun sosial. Ia juga mengungkapkan bahwa para pengasuh masih belajar secara mandiri, termasuk melalui media seperti YouTube, dalam meningkatkan kapasitas pengasuhan anak disabilitas.

Dalam kesempatan tersebut, pihak yayasan juga menyampaikan bahwa di Gorontalo terdapat sekitar 24.000 penyandang disabilitas, namun belum seluruhnya mendapatkan akses pendidikan yang memadai. Banyak di antara mereka yang masih berada di rumah karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan. Pondok Pesantren Al-Maghfirah sendiri saat ini menyelenggarakan pendidikan secara non-formal dan telah meluluskan sebanyak 121 siswa.
Pihak pesantren berharap adanya perhatian yang lebih serius dari pemerintah, khususnya dalam hal implementasi regulasi dan realisasi anggaran bagi pesantren inklusif. Meskipun regulasi telah tersedia, dukungan nyata dalam bentuk fasilitas dan pendanaan dinilai masih sangat terbatas. Seluruh kegiatan di pesantren selama ini dijalankan dengan semangat lillahi ta’ala, meskipun dalam kondisi keterbatasan.
Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama yang menjadi simbol sinergi dan komitmen bersama dalam mendukung pengembangan pendidikan Islam yang inklusif dan berkeadilan. Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata, baik dalam penguatan hasil penelitian maupun dalam penyusunan rekomendasi kebijakan yang mendukung keberlangsungan dan pengembangan pesantren inklusif di Indonesia.
Prof. Rosdalina Bukido dan tim menegaskan komitmennya untuk terus mendorong riset-riset transformatif yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga berdampak langsung pada penguatan lembaga pendidikan Islam, perlindungan kelompok rentan, serta pengarusutamaan nilai-nilai keadilan dalam praktik sosial keagamaan.
